Masuk

Ingat Saya

Misi Damai

Waktu itu agak siang menjelang sore di pertengahan tahun 2015, saya menuju benteng Fort Rotterdam namun pintu masuk sudah sangat sesak. “Alhamdulillah” kataku dalam hati, acara yang dirancang berbulan-bulan sebelumnyabisa menarik perhatian berbagai macam kalangan masyarakat.

Beberapa bulan belakangan santer terdengar isu-isu yang tidak baik tentang Makassar, kota tempatku menghabiskan masa kecil. Beberapa media marak memberitakan kejadian tentang begal dan kekerasan yang hampir semua pelakunya adalah anak muda usia 15-25 tahun. Sungguh disayangkan anak muda seperti mereka bergaul di tempat yang saah.

Akhirnya beberapa teman-teman komunitas Makassar yang tergabung dalam Komunitas Makassar merasa perlu untuk “demonstrasi” untuk mewujudkan bahwa Makassar tidak aman seperti yang diberitakan beberapa media. Bertepatan dengan akan dilaksanakannya Pesta Komunitas Makassar yang kali ke-dua, teman-teman juga ingin menunjukkan bahwa anak muda Makassar tidak seperti yang kelihatan di layar kaca, tentunya dengan cara-cara kreatif dan unik, bukan seperti demo pada umumnya.

Idenya adalah mengajak berbagai macam komunitas untuk berkolaborasi membuat “Demo” Tentu tidak mudah untuk mengajak berbagai macam komunitas yang berbeda mulai dari komunitas hobi sampai dengan komunitas extrim. Bagiku agamaku bagimu agamamu, begitu pula komunitas. Bagiku komunitasku, bagimu komunitasmu. Dengan kultur komunitas yang berbeda-beda yang totalnya 130 komunitas, tentu  banyak halangan yang muncul, mulai dari perbedaan pendapat, sampai menggabungkan waktu kosong untuk rapat koordinasi. Dengan tujuan yang sama untuk menunjukkan anak muda makassar tidak seperti yang diberitakan di televisi, anak muda makassar cinta damai, kreatif di bidangnya masing-masing.

Tercatat lebih 130 komunitas yang memadati benteng fort rotterdam, masing-masing berdemo dengan caranya masing masing dan menarik perhatian. Terdapat 30 booth di dalam area acara dimana satu booth dibagi dua komunitas yang berkolaborasi biar boothnya kelihatan menarik. Sisanya memilih mengambil tempat di ruang terbuka untuk berkreasi lebih luas. Mulai dari yang hobby dengan traveling, pecinta binatang, komunitas sosial dan lain-lain. Selain “demo” komunitas kreatif, ada juga booth tersendiri untuk festival kuliner dan UKM lokal yang tak kalah menarik menyediakan produk-produk andalan mereka.

Terbersit kebanggaan melihat teman-teman yg rela melepas sedikit ego dan menanggalkan arogansi komunitasnya untuk menjadi panitia Pesta Komunitas Makassar 2015, hampir perwakilan 130 komunitas ikut terlibat di kepanitiaan. Penampil pun adalah kolaborasi dari beberapa komunitas yang menampilkan performa terbaiknya. Yah, mereka membuktikan, dengan berbagai latar belakang yang berbeda mereka bisa membuktikan bahwa anak muda Makassar tidak identik dengan kekerasan seperti yg diberitakan, tapi anak muda itu bisa menciptakan damai dengan cara-cara kreatif dengan caranya masing-masing.